Mobile Logo
  • Sightseeing
Candi Jago
Candi Jago

               Sebagaimana dengan fungsi dasar candi di daerah Jawa Timur, hampir seluruh candi dipergunakan sebagai tempat pendharmaan (makam), tempat penyimpanan abu para raja. Dulu, di daerah Malang ada satu kerajaan yang sempat berkuasa di abad ke-13, Kerajaan Singosari. Dibangun pada tahun 1222 oleh Ken Arok, kerajaan tersebut diperintah oleh lima keturunan (berdasarkan kitab Negarakertagama oleh Mpu Prapanca). Diawali dengan Ken Arok atau Rajasa Sang Amurwabhumi, kemudian Anusapati, anak tiri Ken Arok, yang selanjutnya dibunuh oleh raja Tohjaya, putra Ken Arok sebagai hasil cintanya dengan selir Ken Umang. Berakhirnya masa pemerintahan Tohjaya disebabkan karena ia dibunuh oleh Ranggawuni atau lebih sering dikenal dengan nama Wisnuwardhana. Peristiwa pembunuhan demi perebutan kekuasaan berakhir pada pemerintahan Wisnuwardhana. Pergantian pemerintahan berlangsung secara damai dari Wisnuwardhana ke putranya, Kertanegara yang juga menjadi raja terakhir Kerajaan Singosari. Sebagai rasa cintanya kepada sang ayahanda, Kertanegara mendirikan sebuah candi yang saat ini berlokasi di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 200 meter dari Pasar Tumpang, yang bernama Candi Jago.

                Candi Jago adalah candi yang didirikan atas perintah Kertanegara sebagai wujud rasa cinta, bakti dan penghormatan terhadap ayahnya, Wisnuwardhana, pada tahun 1268 sampai dengan tahun 1280, menurut Kitab Negarakertagama dan Pararaton. Dalam kitab tersebut pula, disebutkan bahwa nama awal Candi Jago adalah “Jajaghu” yang berarti Keagungan dalam bahasa Sansekerta. Nama ini menggambarkan perasaan raja Kertanegara terhadap ayahnya yang juga menjadi raja idolanya.

                Seperti candi pada umumnya, denah Candi Jago berbentuk persegi panjang dengan tiga teras berselasar yang mengerucut pada puncaknya. Namun ada keunikan yang terdapat pada candi Jago bila dibandingkan dengan candi lainnya. Candi ini berbentuk menyerupai punden berundak seperti bangunan yang banyak ditemui pada masa megalitikum. Punden berundak merupana bangunan yang digunakan sebagai makam dan juga tempat pemujaan, persis seperti fungsi bangunan Candi Jago. Dengan arsitektur yang menyerupai punden berundak tersebut, menambah aura sakral, suci dan agung. Ditambah dengan banyaknya ukiran yang sebagian besar adalah kisah-kisah moral yang terkenal di kalangan masyarakat Kerajaan Singosari jaman dulu.

                Hampir seluruh dinding tubuh Candi Jago dipenuhi oleh relief-relief kisah moral. Relief-relief yang terdapat pada Candi Jago dikategorikan menjadi dua bagian seperti karakter raja Wisnuwardhana; Hindu dan Budha. Kisah Parthayajna atau fabel, Arjunawiwaha dan Kalayawana adalah kisah-kisah Hindu. Sedangkan cerita Tantri atau Pancatantra, Anglingdharma dan Kunjarakarna adalah Budha. Kisah fabel yang terukir pada tubuh Candi Jago adalah kisah antara kura-kura dan serigala yang menyiratkan nasihat untuk tidak terpengaruh terhadap hinaan orang ketika kita berusaha meraih tujuan kita. Dalam kisah Anglingdharma, kita dapat menarik pesan moral tentang karma akibat perselingkuhan, ketidakjujuran, pengkhianatan, fitnah dan kelicikan. Ada tiga kisah pada teras pertama, yakni Parthayajna, Anglingdharma dan Kunjarakarna. Kisah Kunjarakarna berkisah tentang bagaimana Sang Kunjarakarna mendapatkan pencerahan spiritual untuk mengajarkan ajaran mulia (dharma). Di teras kedua Anda akan menemui kisah Pancatantra mengenai Kurawa dan Pandawa. Sedangkan di teras ketiga Anda akan menjumpai kisah Arjuna Wiwaha, salah satu dari Pandawa Lima.

                Ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi ketika Anda mengunjungi Candi Jago. Candi ini masih dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Karenanya, bersikaplah sopan dengan tidak membuang sampah sembarangan, memakai pakaian yang sopan dan bersikap santun. Sebaiknya juga jangan menaiki candi sebab Candi Jago memiliki tangga yang sempit, licin dan rapuh terhadap tekanan sehingga dapat mengalami kemerosotan. Untuk berkunjung ke Candi Jago, tidak ada tarif tertentu, sebaiknya Anda memberikan donasi secukupnya pada penjaga candi untuk merawat peninggalan bersejarah Negara kita agar dapat pula disaksikan oleh generasi selanjutnya.

sumber gambar: agungprat


Candi Jago

Address : Desa Jago
Telephone : n/a
Email : n/a
0 comments
See what other people say about this article.
Name*:
Email*:
Website:
Comment*: