Mobile Logo
  • Sightseeing
Candi Kidal
Candi Kidal

            Kerajaan Singosari merupakan salah satu kerajaan yang berjaya di abad ke-13. Didirikan pada tahun 1222 oleh Ken Arok, seorang Akuwu (Bupati) Tumapel yang beristri sangat jelita bernama Ken Dedes. Sebagai kerajaan pada umumnya di Indonesia, Singosari memiliki beberapa candi peninggalan dengan latar belakang bersejarah kelam. Salah satu peninggalan kerajaan Singosari adalah Candi Kidal. Tak banyak orang mengenal Candi Kidal sebagaimana orang mengenal Candi Singosari. Candi ini berukuran kecil, dan diriwayatkan sebagai makam atau tempat penyimpanan abu raja terdahulu, sama seperti Candi Singosari. Candi Kidal terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, sekitar 20km ke arah Timur dari pusat Kota Malang. Bangunan ini dibangun pada masa peralihan kekuasaan dari Kerajaan Airlangga ke Kerajaan Kediri di pertengahan abad ke-13 yang pada awalnya dipergunakan sebagai candi pemujaan. There is this fun fact; candi ini adalah candi pemujaan tertua di daerah Jawa Timur.

                Kebenaran Candi Kidal sebagai candi pemujaan dapat dilihat dari pahatan kepala Bathara Kala pada pintu masuk candi. Bathara Kala adalah salah satu aspek dewa Siwa yang dikenal sebagai penjaga bangunan suci. Dengan mata melotot, mulut terbuka, dua taring yang menyeramkan dan mudra (sikap) tangan kiri-kana dengan jemari yang mengancam mengaurakan dengan jelas keperkasaan sang Kala yang siap menjaga candi pemujaan tersebut.

                Pada kaki Candi Kidal terdapat relief Garudeya (Garuda) dengan kisah moral yang tenar di kalangan masyarakat Jawa Timur mengenai pembebasan dari perbudakan. Dikisahkan bahwa Kadru dan Winata adalah dua bersaudara istri dari resi Kasiapa. Kadru memiliki tiga ekor ular sebagai anak angkat dan Winata memiliki anak angkat Garuda. Kadru adalah seseorang yang pemalas dan mudah merasa bosan dengan rutinitasnya mengasuh tiga anak yang nakal karena sering menghilang di antara semak. Kadru yang licik mengajak Winata bertaruh dengan konsekuensi yang kalah harus menuruti segala perintah pemenang, dan melakukan aksi jahat hingga Winata kalah dan bersedia melayani Kadru. Dalam melaksanakan tanggungjawabnya, Winata meminta bantuan Garuda, anaknya. Saat Garuda beranjak dewasa, barulah ia tahu asal mula ibunya menjadi budak. Ia merasa iba dan bermaksud membebaskan ibunya dari perbudakan dengan cara membawakan air suci amerta kepada tiga ekor ular saudara angkatnya. Dalam perjuangannya mendapatkan air suci tersebut, Garuda berperang dengan dewa dan Bathara Wisnu. Pada akhir kisah, Garuda berhasil mendapatkan air suci tersebut dan membebaskan ibunya namun ia harus bersedia menjadi tunggangan Bathara Wisnu. Narasi cerita ini dipahatkan dalam tiga relief yang masing-masing terletak di tengah sisi-sisi kaki candi. Pembacaannya dengan cara berjalan berlawanan dengan arah jarum jam atau prasawiya.

                Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Candi Kidal ialah candi peninggalan Kerajaan Singosari sebagai makam raja terdahulu. Abu raja yang disimpan dalam Candi Kidal adalah abu Anusapati. Anusapati adalah anak dari Tunggul Ametung, Akuwu (Bupati) Tumapel, dengan Ken Dedes, wanita paling jelita pada masanya. Ketika Ken Dedes mengandung Anusapati, suaminya dibunuh oleh Ken Arok, pengawal Tunggul Ametung yang jatuh cinta pada paras Ken Dedes. Anusapati merasa dianaktirikan semasa Ken Arok berkuasa sebagai raja. Perlakuan Ken Arok terhadapnya berbeda dari perlakuan sang ayah kepada saudaranya yang lain. Anusapati yang penasaran berusaha mencari informasi hingga sampailah ia pada kesimpulan bahwa dirinya memang anak tiri dari Ken Arok, seseorang yang telah membunuh ayahnya demi mendapatkan ibunya. Sebagai seseorang yang murka, Anusapati membunuh Ken Arok dengan keris buatan Mpu Gandring, yang juga Ken Arok Gunakan untuk membunuh Tunggul Ametung. Setelah membunuh Ken Arok, Anusapati menjabat sebagai raja Kerajaan Singosari. Dalam masa kekuasaannya, Anusapati kemudian dibunuh oleh Tohjaya, saudara tiri Anusapati, anak dari rahim Ken Umang, selir Ken Arok. Sebelum meninggal, Anusapati pernah berpesan pada ibunya, jika ia mati, ia ingin di tempat pendarmaannya diukirkan kisah Garudeya yang juga menggambarkan keinginannya membebaskan ibunya dari nestapa karena tidak pernah menjadi wanita utama seutuhnya.

 

Candi Kidal

Address : Desa Rejokidal
Telephone : n/a
Email : n/a
0 comments
See what other people say about this article.
Name*:
Email*:
Website:
Comment*: